Menjaga Air demi Masa Depan

31 Aug 2014

Sekitar 80% ikan yang hidup di Kali Brantas, Jawa Timur, ternyata betina. Artinya jumlah ikan jantan di sungai itu mungkin hanya seperempatnya. Jika ini dibiarkan terus-menerus, di masa depan kita akan lebih jarang menemukan ikan-ikan yang masih anakan, dan bukan tidak mungkin lama-kelamaan populasi ikan makin punah. Akibatnya tentu adalah kekacauan rantai makanan dalam ekosistem, yang lambat-laun akhirnya akan merembet mengancam kehidupan kita juga sebagai manusia.
Ketika Semua Ikan Menjadi Betina

Bagaimana bisa ikan-ikan di sungai itu kebanyakan betina? Prigi Arisandi, ilmuwan lingkungan asal Surabaya dalam kampanyenya pada sebuah pertemuan blogger di Pandaan, Pasuruan, bercerita. Tim riset yang dimotorinya, Ecoton, menemukan bahwa lebih banyak ikan yang menetas sebagai betina karena gangguan pada proses pembentukan jenis kelamin ikan itu sendiri semenjak mereka masih dalam bentuk anak. Bakal ikan yang semula mengalami spermatogenesis, atau dalam bahasa awamnya, proses pembentukan jenis kelamin jantan, terganggu oleh karena sungai tempatnya bernaung telah tercemar sampah. Wujud sampah tersebut antara lain sisa pakan ternak yang dibuang oleh masyarakat. Pakan ternak ini mengandung etinil estradiol, zat kimiawi mirip estrogen, alias hormon yang membentuk sifat betina. Sumber sampah lainnya yang juga mengandung hormon ini adalah urin manusia dari jamban-jamban rumah tangga maupun mereka yang buang air kecil langsung di sungai, dan kebetulan urin ini juga mengandung etinil estradiol (biasanya karena manusia tersebut mengonsumsi pil KB). Ketika zat feminin ini mengkontaminasi sungai dan terminum oleh si bakal anak ikan, maka hormon ini akan mendominasi hormon jantan yang dikandung oleh si bakal anak ikan. Akibatnya anak ikan tersebut cenderung lahir sebagai betina. Dan karena sampah yang mengandung zat-zat mirip estrogen ini berjumlah cukup banyak sampai mencemari Kali Brantas, maka anak-anak ikan yang terlahir sebagai betina pun jumlahnya membludak.


Ini masih diperparah produk pencemar lainnya dari sampah, yaitu bisfenol A alias BPA. BPA hasil sampah ynag juga banyak ditemukan mencemari sungai Brantas ini punya efek buruk mengganggu pematangan sel sperma pada ikan-ikan jantan. Akibatnya ikan jantan tersebut menjadi kesulitan untuk membuahi ikan betina yang sudah telanjur mendominasi sungai tadi.

Dan ketika masyarakat yang tinggal di sepanjang daerah aliran sungai kesulitan untuk memperoleh air minum, suka tidak suka mereka terpaksa akan mengonsumsi air sungai yang telah tercemar tadi. Padahal BPA yang terkandung dalam air, bila terkonsumsi oleh bayi manusia, akan mengintervensi sel-sel otak sehingga mengakibatkan anak tersebut mengalami kelainan hiperaktivitas. Sel-sel otak anak yang terlalu banyak menelan BPA ternyata juga cenderung menyebabkan anak menjadi lebih agresif. Jika sifat ini sulit dikendalikan, ia akan mengalami kesulitan belajar dan kelainan ini akan mengganggu proses perkembangannya untuk jadi dewasa.
Ketika Pembangunan Berbuntut pada Banjir

Pencemaran limbah pada daerah aliran sungai Brantas memang saat ini dalam kondisi mencemaskan. Ecoton menunjukkan bahwa hampir seluruh daerah tersebut dalam keadaan tercemar, terutama di daerah hilirnya di sekitar area kota Surabaya yang sudah penuh oleh sampah rumah tangga maupun sampah industri. Adapun daerah hulu sungai yang diharapkan lebih steril dari kepadatan penduduk, nyaris kesulitan untuk menyuplai air bersih lantaran area hutan semakin menyempit. Padahal pepohonan di hutan sangat diharapkan untuk bisa menyerap air hujan agar dapat menjadi sumber untuk air tanah. Ketika musim hujan menjadi sulit diprediksi di Indonesia, hujan yang masif menjadi bencana karena tidak siapnya lahan hutan untuk menampung air. Akibatnya pun bisa diduga: banjir.

Tim Ecoton membeberkan hasil penelitian mereka, menjelaskan bagaimana pembangunan perumahan dan industri yang tidak terkendali di sepanjang daerah aliran sungai Brantas telah berkontribusi banyak terhadap banjir selama bertahun-tahun di Jawa Timur. Selain banjir ini, ancaman masa depan yang masih mengintai tentu saja adalah rusaknya ekosistem akibat makin jarangnya ikan jantan karena kebanyakan ikan sudah menjadi betina. Suatu hari nanti kita mungkin akan jarang melihat ikan. Ketika tak ada lagi cukup bangkai ikan untuk didegradasi oleh plankton-plankton, bisa dipastikan makhluk-makhluk pengurai ini akan mati karena tidak dapat makanan. Jika semua hewan ini mati, maka apa yang bisa dimakan oleh manusia untuk bertahan hidup?
Kampanye pada Masyarakat

Selain mengadvokasi pemerintah lokal untuk menerbitkan regulasi yang mampu melindungi mata air, Ecoton juga aktif berkampanye ke masyarakat. Programnya yang mengajak anak-anak sekolah untuk ikut mengamati sungai, antara lain mengajari mereka tentang betapa beragamnya ikan yang tinggal di sungai itu, dan betapa banyaknya spesies ikan yang sudah hampir punah. Mereka memberitahukan bahwa sebenarnya masyarakat bisa ikut serta melindungi air dengan cara-cara yang sederhana. Misalnya dengan mengawasi hutan agar tidak terjadi penebangan liar.

Nilai lainnya yang juga dikampanyekan ke masyarakat ialah mengurangi pemakaian produk-produk yang sulit terurai, misalnya kantong plastik dan popok bayi. Karena kepadatan pemukiman akan menciptakan sampah, dan keterbatasan pengendalian sampah akan merangsang masyarakat untuk membuang sampah mereka yang sulit terurai itu, ke sungai. Beberapa perusahaan air minum, seperti Danone yang memproduksi Aqua, mengalokasikan dana corporate social responsibility mereka untuk membuat bank daur ulang sampah plastik di Desa Jatianom, kawasan Pasuruan. Masyarakat diajari untuk menggunakan kembali sampah plastik dari rumah-rumah mereka untuk menjadikannya produk baru yang punya nilai tambah. Dengan cara ini, diharapkan tidak saja sumber air di daerah aliran sungai itu berhasil diremajakan kembali, namun pencemaran sungai juga berhasil dikurangi dan perekonomian masyarakat juga menjadi lebih berdaya.
Air dan Kehidupan, untuk Indonesia yang Lebih Sehat

Perjalanan bangsa kita untuk memiliki generasi yang sehat mungkin masih panjang. Tetapi usaha kita melindungi dan melestarikan sumber air akan berkontribusi banyak untuk perbaikan generasi yang lebih baik di masa depan. Saat kita bekerja menjaga air, sebenarnya kita sedang menyiapkan rumah yang lebih baik untuk keturunan kita yang akan meninggalinya nanti. Dan kabar baiknya, upaya itu dapat dimulai dari hal-hal kecil yang sederhana. Bergaya hidup sehat. Melindungi sumber air dari sampah. Dan mungkin, menyisakan area perumahan untuk membangun pohon.

Karena pada akhirnya, kita tetap ingin anak cucu kita di masa depan nanti tetap bisa makan ikan, bukan?

Sumber:
Presentasi Being Part of Solution for Environmental Crisis oleh Prigi Arisandi, 19 Juli 2014, Pandaan, Pasuruan
Lembar Fakta Payung Inisiatif Keberlanjutan Aqua (Aqua Lestari), oleh Aqua Plant

Presentasi Siklus Air oleh Daru Setyorini
Semua sumber disampaikan kepada saya oleh Blog Detik.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post